This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Cara Mengkonsumsi Madu

Madu Java Honey.

Jumat, April 29, 2011

Fiqh Siyasi

Fiqh Siyasi
Oleh : Agus Bin Affan

Seorang muslim tidak akan sempurna islamnya kecuali jika ia seorang politisi, …
(Hasan albanna ; Majmu’ah Rosail)


Pengertian

Fiqih: asal kata (mashdar) dari kata kerja lampau “Faquha” yang berarti “memahami”. Memahami perkara, berarti baik mengerti maksudnya. Fulanun laa yafqahu: Si fulan tidak mengerti dan tidak memahami. Fiqih: berarti faham dan pandai. Fiqih bukan berarti hanya mengerti, tetapi merupakan kefahaman mendalam yang mengharuskan menggunakan pikiran, menajamkan otak dan mencurahkan upaya maksimal dalam hal tersebut.

Fiqih dalam istilah syara`: Pengambilan hukum syara’ yang praktis (amali) dari dalil-dalilnya secara rinci.

Adapun lafal siyaasi diambil dari lafal “Saasa”, dan isim fa`il “Saa`is”, dan mashdar (akar katanya)-nya “siyaasah” yang artinya penjagaan, maka “Saa`is Al-Khail” berarti penjaga kuda, dan “Saasa Al-`Ummah” berarti menjaga urusan ummat.

Politikus (Siyaasi): adalah orang yang mem¬berikan perhatian kepada urusan-urusan ummat dan memahaminya dengan teliti, mengerti dan mencarikan solusinya berdasarkan ide dan pemikirannya yang benar. Politikus Islami (Siyaasi Islami): Ialah seorang Muslim yang konsisten dengan Islam yang menangani berbagai urusan ummat dari sisi pandangan Islam dan hukum syara’.

Fiqih Siyaasi (Fiqih Politik): Adalah pemahaman yang mendalam terhadap urusan-urusan ummat baik internal maupun eksternal, pengurusan dan penjagaan urusan-urusan ini dalam visi dan petunjuk hukum syara’. Jadi politik itu terbagi menjadi dua macam: politik syar’i (politik Islam) dan politik non syar’i (politik non Islam). Politik syar’i berarti upaya membawa semua manusia kepada pandangan syar’i dan khilafah (sistem pemerintahan Islam) yang berfungsi untuk menjaga agama (Islam) dan urusan dunia. Adapun politik non syar’i atau politik versi manusia adalah politik yang membawa orang kepada pandangan manusia yang diterjemahkan ke undang-undang ciptaan manusia dan hukum lainnya sebagai pengganti bagi syari’at Islam dan bisa saja bertentangan dengan Islam. Politik seperti ini menolak politik syar’i karena merupakan politik yang tidak memiliki agama. Sedangkan politik yang tidak memiliki agama adalah politik jahiliyah.
(http://barisanrabbani.blogspot.com)

Politik; Antara Islam dan Barat

untuk mengetahui keunggulan politik islam maka perlu diperbandingkan politik dalam pandangan Barat dengan politik dalam pandangan Islam. Pandangan politik Barat bisa diketahui akarnya dari pemikiran politik Plato dan Aristoteles. Sehingga pokok-pokok pemikaran politik Barat terformulasikan ke dalam prinsip-prinsip pemisahan politik dengan etika, agama dengan hukum, pembedaan kedudukan antara masyarakat dan negara, kedaulatan politik dan personalitas negara dalam pembuatan hukum.

Sedangkan dalam Islam, politik harus bersumber dari agama. Sebagaimana karakter Islam yang syamil, mengatur segala segi kehidupan, maka politik pun harus sejalan dengan syariat. Bahkan definisi politik (baca: siyasah syar'iyah) itu sendiri berarti segala upaya untuk memperhatikan urusan kaum muslimin, dengan jalan menghilangkan kezaliman penguasa dan melenyapkan kejahatan musuh kafir dari mereka.

Maka perbedaan pertama antara politik Islam dan politik Barat (sekuler) adalah landasannya. Politik Islam dibangun dari tauhid, sementara politik Barat justru memisahkan politik dari agama. Standart kebenaran dalam politik Islam jelas, yaitu Al-Qur'an dan hadits, sementara standar kebenaran dalam politik Barat bersifat relatif, sesuai dengan kesepakatan rakyat (atau atas nama rakyat).

Perbedaan lainnya adalah sumber kedaulatan, legitimasi kekuasaan, dan aplikasi. Pada politik Islam, sumber kedaulatan adalah Allah SWT. Maka segala hukum dan keputusan politik harus bersumber dari sana. Sedangkan politik Barat menjadikan rakyat sebagai pemilik kedaulatan, tidak peduli apa aturan Tuhan. Dalam politik Islam, legitimasi kekuasaannya adalah manusia dengan nilai, semetara politik Barat minus nilai. Lalu pada tataran aplikasi, politik Islam cenderung stabil karena berpedoman pada nilai-nilai Ilahiyah yang sudah given, sementara politik Barat bersifat spekulatif dan penuh konflik.

Prinsip-prinsip Pemerintahan dalam Islam

Negara dan pemerintahan memiliki kedudukan yang sangat penting dalam Islam. Ada enam alasan yang menunjukkan hal itu. Pertama, Al-Qur'an memiliki seperangkat hukum –misalnya qishash, maliyah, dan jihad- yang pelaksanaannya membutuhkan negara dan pemerintahan. Kedua, pelaksanaan dan pengawasan aqidah, syariah, dan akhlak yang telah diatur dalam Al-Qur'an membutuhkan intervensi negara. Ketiga, adanya ucapan-ucapan nabi yang dapat menjadi istidlal bahwa negara dan pemerintahan menjadi elemen penting dalam ajaran Islam. Keempat, perbuatan Nabi yang dapat dipandang sebagai bentuk pelaksanaan tugas-tugas negara dan kepemerintahan. Kelima, para sahabat lebih memprioritaskan memilih pemimpin pengganti Nabi daripada mengurus jenazah beliau. Dan keenam, kepemimpinan (imarah) telah menjadi bahan kajian dan pembahasan para ulama dalam kitab mereka sepanjang sejarah

Dalam negara atau pemerintahan Islam, kepemimpinan tertinggi dikenal sebagai khilafah. Terminologi khilafah ini dipakai untuk menjelaskan tugas yang diemban para pemimpin pascakenabian. Kepemimpinan dalam perspektif khilafah –menurut Ahmad Dzakirin- lebih merefleksikan pemahaman terhadap nilai dan prinsip kepemimpinan yang benar menurut Islam ketimbang sebagai sebuah eksistensi maupun bentuk pemerintahan.

Kepemimpinan dalam Islam, yang pada tingkatan tertingginya merupakan implementasi tugas kekhilafahan, setidaknya harus memenuhi tiga syarat: integritas keilmuan, integritas moral (keshalehan individual), dan kemampuan profesional.

Dalam kaitannya dengan mekanisme pengangkatan kepemimpinan, Al-Qur'an dan Sunnah tidak menetapkan mekanismenya. Yang kita dapati adalah ijma' (kesepakatan) sahabat. Mereka memilih Abu Bakar, Umar hingga Ali dengan cara yang berbeda. Abu Bakar dengan musyawarah mufakat, Umar ditunjuk oleh pemimpin sebelumnya, Ustman melalui tim formatur, dan Ali secara aklamasi dibaiat kaum muslimin Madinah dan Kufah.

Selain kepemimpinan yang lebih condong sebagai eksekutif, dalam Islam juga dikenal ahlul hall wal aqdi yang menjalankan fungsi legislatif, dan adanya para qadhi atau hakim sebagai unsur yudikatif.

Sementara dalam penyelenggaraan pemerintahannya, politik Islam memiliki prinsip syura, prinsip keadilan, prinsip kebebasan, dan prinsip persamaan yang meliputi persamaan umum, persamaan di depan hukum, dan persamaan hak-hak sosial.


Islam dan Demokrasi


Demokrasi sebagai ide politik modern Barat merupakan hal yang tidak pernah berhenti untuk didiskusikan dalam perpolitikan Islam modern. Ini dikarenakan adanya hal-hal positif dalam demokrasi yang sejalan dengan nilai Islam dan bisa dimanfaatkan oleh Islam alih-alih pilihan-pilihan politik lain yang kemadharatannya jauh lebih besar. Namun demikian, ada banyak kelemahan sistemis dari demokrasi dalam praktiknya di negeri-negeri muslim.

Gerakan Islam dewasa ini sepatutnya untuk tidak keberatan dengan praktik demokrasi dan perlu secara tegas menepis kecurigaan dari kalangan sekuler bahwa demokrasi hanya dijadikan alat untuk mencapai kemenangan.

Tarbiyah siyasiyah (ahmad dzakirin) ; www.muchlisin.blogspot.com



Pendapat Ulama Tentang Pemilu

“Sesungguhnya Salafiyin tidak mendukung pencalonan untuk Pemilu, namun mereka memandang bahwa memilih siapa yang lebih utama dan lebih baik serta paling banyak positifnya dan paling minim negatifnya untuk maslahat umum adalah hal yang diperbolehkan.” Kata Syeikh Ali Hasan kepada Al Jazeera.

Masih menurut Syeikh Al Halabi, “Syeikh Al Albani juga memiliki pendapat membolehkan berpertisipasi dalam Pemilu, di saat itu beberapa muridnya menyeselisihi dengan dengan menggunakan adab.Hari ini, sebagai dampak dari perkembangan pemikiran dan memandang sebagai maslahat umum, kami kembali kepada pendapat Syeikh Al Albani, tentang bolehnya mengikuti pemilu parlemen.” Ungkap Al Halabi

Demikian pula Syeikh Masyhur Hasan Ali Salman menyatakan, “Pemerintah telah meminta kepada kalian untuk mengikuti Pemilu, dan hal itu bukanlah keharaman. Janganlah kalian melakukan pemboikotan. Pemboikotan bukanlah ibadah. Adalah orang yang salah jika ia berfikir melakukan ibadah kepada Allah dengan melakukan pemboikotan”
www.al-ikhwan.net

Amal siyasi islami mempunyai dua titik tolak mendasar:

Pertama: Amal siyasi islami adalah amal sepanjang hayat, sebab, medan amal siyasi adalah keseluruhan amal kehidupan dan keduniaan semata, baik sosial, ekonomi, politik dan lainnya. Dan ia tidak mempunyai hubungan dengan urusan-urusan agama murni, semisal ibadah, ritual dan aqidah, di mana medannya adalah amal dakwah dan bukan amal siyasi. Jadi, amal siyasi adalah amal madani, hanya saja, hukum-hukumnya dan berbagai pengorganisasiannya, sumbernya adalah syariat Islam; tercakup di dalam pengertian syariat Islam ini adalah keseluruhan nash-nash ilahiyah dan seluruh ijtihad-ijtihad aqli dan ilmi dari manusia

Kedua: Amal Siyasi Islami adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari amal Islami secara umum. Hal ini tercakup oleh Islam yang syumul dan kenyataan bahwa Islam adalah manhaj kehidupan yang lengkap. Dan hal ini merupakan aqidah seorang muslim, di mana keimanannya tidak sah, dan agamanya tidak sempurna kecuali dengan aqidah ini.
www.al-ikhwan.net


Kamis, April 28, 2011

Romantis Cinta

Cinta memang butuh nuansa romantis, meskipun itu dibuat seromantis mungkin. Bila tidak terbiasa terkesan kaku memang, tapi itu harus dilakukan. Semakin kaku, kikuk dan lain sebagainya, itu akan membuat kekasih kita sangat bahagia. bahagia akan kekonyolan kita tentunya.

Sikap romantis tidak butuh teori yag dibutuhkan adalah realisasi dari diri kita. Semakin banyak mencoba maka kita akan terbiasa bersikap dan berucap romantis.
IA/klaten

Sabtu, Januari 08, 2011

CD KEY

wINDOWS XP SP3
V2C47 - MK7JD - 3R89F - D2KXW - VPK3J
DCK39 - 9YQYJ - CXJTQ - 9W68B - QGQW3
THMPV - 77D6F - 94376 - 8HGKG - VRDRQ
BDGMY - QJYMD - YHPQ4 - QRV3H - C4MRQ

WIN-XP SP2-ORI PUNYA-KU
QQCK4 - 6Y3Y7 - HRCXV - VTJKM - VQMMQ #DISK1
TP283 - 8FHDT - T26R8 - 69D2T - H4GXQ #DISK2
H8J3F - TCBTT - JD8QX - 87BTM - 2RGDM #DISK3
BGRTG - JWWHG - RYP36 - T7BPW - TWQ33 #DISK4
T6V7D - R79D7 - G4J99 - FBYWG - VG7K3 #DISK5
BR89Q - 4B9GB - 9DPFD - M2PY3 - R3F83
FCKGW - RHQQ2 - YXRKT - 8TG6W - 2B7Q8 coba yang ini
7QVT6 - T2738 - WRKJB - YKRFQ - XVK98 COBA YANG INI DULU

win98se
hq6k2-qpc42-3hwdm-bf4kj-w4xwj

win98 ena
HG9W3 - VPWST - XGG7W - 4X9HK - GKRMT

WIN ME
B6BYC - 6T7C3 - 4PXRW - 2XKWB - GYV33

WIN 2000
RBDC9 - VTRC8 - D7972 - J97JY - PRVMG

OFFICE PRO_BCM
BW232-DQ9R6-F2TB3-VBPXQ-BP793

AUTO_CAD_2006
191 - 75444444



Rabu, September 22, 2010

PILKADA Telah Selesai

PILKADA yang sempat menyita perhatian kita semua, kini telah usai tinggal menunggu pengesahannya saja. Suara mutlak untuk H. Sunarno, SE. MH. dan Hj Sri Hartini dengan suara hampir 65%. Ada yang menang dan ada pula yang kalah. Sejauh mana kemenangan itu dapat dicapai, itu yang menjadikan standar kemenangan sejati.

Perlu ada evaluasi dalam pelaksaan proses demokrasi yang ada di negeri ini. Apakah sudah sesuai dengan harapan akan nilai-nilai demokrasi, ataukah demokrasi yang setengah hati. Tidak dapat dipungkiri yang terjadi dimasyarakat bahwa kesadaran akan demokrasi masih jauh dari harapan. Money politik, iming-iming, pemaksaan kehendak, teror, black propaganda dan masih banyak lagi. Bukan ini yang kita harapkan.

Kapan demokrasi ini bisa berjalan sesuai dengan yang kita impi-impikan. Rakyat merdeka dalam memilih tanpa takut, tanpa ada tekanan, tanpa ada pemaksaan, memilih atas kesadaran sendiri berdasar kelayakan calon pemimpin negeri. Semoga cepat terealisasi.. /IA-Klaten

Rabu, Juli 28, 2010

Sambut Ramadhan


Ramadhan tinggal sebentar lagi. Bisa kita hitung dengan jari. Pada ramadhan kali ini bertepatan pula dengan agustusan, dimana banyak warga indonesia merayakan hari bersejarah, kemerdekaan indonesia. Biasanya dalam acara agustusan dimeriahkan dengan berbagai perlombaan untuk anak maupun orang tua, memperbaiki cat pagar yang telah usang meski dengan kapur putih, pawai dijalan raya dengan berbagai accesoris, dan masih banyak lagi.

Belum lagi pada bulan-bulan ini disibukkan dengan kampanye, sudah banyak atribut terpasang disana-sini. Maklum pemilukada dilaksanakan seminggu setelah lebaran. Bisa jadi nuansa ramadhan jadi nuansa politis, semua serba dibuat kepentingan kampanye. Semoga itu hanya su'udhon saja. Tapi pada bulan ramadhan ini juga bisa dimainkan peran politis terkait nilai-nilai, bukan keberpihakan terhadap calon tertentu.

Ramadhan perlu kita siapkan sedini mungkin. Baik kesiapan akal, jasmani, maupun ruhi. Semua perlu direncanakan. Bisa kita buat perencaan amal dalam menyambut ramadhan, pada saat ramadhan serta setelah ramadhan itu sendiri. Tiap tahapan perlu ada target pencapaian, jangan sampai ramadhan berlalu tanpa ada bekas yang tersisa. Alias biasa-biasa saja.

Sekian dulu... semoga dapat menjadi penghangat bacaan..., dan penghibur kesepian. / IA-Klaten


Jumat, April 23, 2010

Suara hati


Pilkada masih lama... rasanya sudah enek. Belum juga dibuka pendaftaran, kampanye pun sudah jor-joran. Kalau dibilang kampanye jawabnya ini bukan kampanye, jadwal kampanye belum ada. Belum lagi membahas netralitas, inilah, itulah... semua disangkut pautkan dengan mengusung nama tertentu. Dimanapun, kapanpun, dan dalam momen apapun. asal ada kesempatan bicara, maka disitu lahan yang tepat. .

Sikap dewasa para pejabat terlihat seperti anak-anak yang berebut mainan, sikap oportunis terlihat semakin kental dengan penguasa yang mau mencalonkan lagi. Inilah indonesia.. yang dalam obrolan ngalor ngidul, indonesia tipe B...

Entah esuk menggunakan hak pilih tidak... tidak memilihpun termasuk sebuah pilihan politik. Asal jangan sampai tidak berangkat saja, karena orang yang golput dinegeri ini dianggap seperti sampah alias tidak diperhitungkan posisinya. entahlah.... /IA-Klaten

Kamis, Maret 04, 2010

Umat Islam Bersatulah


"Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (QS. ar-Ra’du [13] : 11)

Keruntuhan Turki Utsmani dan penghapusan sistem khilafah oleh Kemal Attaturk, pada tahun 1924. Sudah 82 tahun ummat Islam tidak mempunyai sistem pemerintahan secara universal. Perpecahan dalam tubuh ummat Islam masih saja terjadi, saling tuduh, saling hujat, tidak ada persatuan. Masing-masing memikirkan dirinya sendiri, golongannya sendiri. Peristiwa dekat ini, penyerbuan terhadap salah satu negeri muslim (Palestina dan Libanon), sebagian ummat Islam masih melihat penduduk negerinya dari golongan mana, imamnya siapa. Pernyataan seperti itu sering kali terdengar oleh telinga kita.

Pernyataan yang hanya melihat pada salah satu golongan/jama’ah-nya saja adalah pandangan yang sempit. Lebih lagi ketika hanya membenarkan jama’ahnya dan menyalahkan yang lain. Esensi dalam hidup berjama’ah adalah agar kita mampu meningkatkan segala potensi yang ada dalam diri kita serta agar kita senantiasa terjaga kondisi keimanan kita. Kehidupan ber-jama’ah kita jadikan sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas diri.

Kemerosotan peranan politik Islam tidaklah menyebabkan hilangnya sistem ajaran Islam sebagai ajaran yang universal, ajaran yang sesuai dengan fitrah manusia. Sebagai sistem ajaran, Islamlah satu-satunya alternatif bagi manusia yang ingin selamat dunia dan akhirat.

Jama’atul Muslimin mempunyai kedudukan yang mulia dan luhur dalam syariat Islam. Ia merupakan ikatan yang kokoh, yang apabila hancur maka akan berpengaruh terhadap sendi-sendi kehidupan Islam. Tidak diaplikasikannya hukum-hukum Islam, meredupnya syiar Islam, dan terjadinya perpecahan ummat yang terombang-ambing bagai buih dilautan.

Musuh-musuh Islam akan senantiasa dengan mudah memperdaya ummat Islam, mereka tidak akan membiarkan begitu saja ketika Islam mulai bangkit kembali. Kebangkitan Islam membutuhkan kekuatan yang sangat besar dari ummat Islam. Tapi yang terjadi pada saat ini, sangat sedikit sekali yang memahami akan pentingnya kesatuan ummat, mereka disibukkan dengan rutinitas duniawi, disibukkan dengan memperdalam ilmu tanpa ada aplikasi, disibukkan dengan kepentingannya masing-masing.

Kehidupan berjama’ah diperintahkan oleh Allah Ta’ala. Kehidupan berjama’ah harus senantiasa dijaga, dipelihara kesatuannya, dilindungi keutuhannya, dan dicegah dari setiap ancaman serta rongrongan yang akan merusaknya. Allah Ta’ala berfirman : “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. ali-‘Imran [3]: 103)

Unsur Kesatuan Ummat Islam
Unsur kesatuan ummat islam yang terpenting antara lain :
1. Kesatuan Aqidah
Keistimewaan ummat Islam terletak pada aqidah mereka yang bersih tentang Allah Ta’ala. Dia-lah Yang Maha Esa, Maha Tunggal, Tempat bergantung segala sesuatu, tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tiada sekutu bagi-Nya. Tidak ada yang berhak disembah kecuali Dia.
2. Kesatuan Ibadah
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyaat [51] : 56) ummat Islam melakukan bentuk ibadah yang sama. Bersatu dalam menunaikan ibadah tanpa membedakan jenis dan warna kulit. Setiap muslim diwajibkan shalat lima waktu sehari semalam, shaum di bulan Ramadhan, zakat apabila telah cukup nishab, dan kewajiban-kewajiban yang lain.
3. Kesatuan Adat dan Perilaku
Setiap muslim memunyai keteladanan yang baik dari diri Rasulullah SAW. Hal ini menumbuhkan kesatuan perilaku dan akhlak, karena ummat Islam dituntut untuk meneladani Rasulullah SAW. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. al-Ahzab [33] : 21)
4. Kesatuan Sejarah
Kita masih mengenal perang badar yang hanya dengan pasukan sedikit mampu mengalahkan pasukan yang banyak. Kita mengenal perang khandak strategi jitu untuk menghadapi kafir Quraisy hingga mundur dengan penuh kekecewaan. Kita mengenal berbagai sejarah tentang kejayaan Islam, kemakmuran akan pemimpinnya, dan masih banyak lagi. Dengan kita mengingat sejah itu bahwa kesatuan ummat Islam mampu menciptakan kehidupan yang begitu indah.
5. Kesatuan Bahasa
Merupakan suatu yang alami jika bahasa arab menjadi salah satu faktor pemersatu ummat Islam. Undang undang ummat Islam yaitu al-Qur’an diturunkan dalam bahasa arab, maka untuk memahami dan mengamalkannya haruslah mempelajarinya. Shalat yang kita lakukan juga menggunakan bahasa arab, tidak boleh dengan menggunakan bahasa lain. Bahasa arab ini menjadi simbol pemersatu ummat Islam.
6. Kesatuan Jalan
Sesungguhnya jalan ummat Islam adalah satu, yaitu jalan para nabi dan rasul. “Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. al-Fatihah [1] : 6-7)
Seorang muslim dituntut untuk senantiasa teguh dan konsisten di jalan-Nya. Apabila terjadi penyimpangan maka akan mendapatkan celaka.
7. Kesatuan Dustur (Undang-undang)
Sumber undang-undang ummat Islam adalah al-Qur’an dan as-Sunnah. Kedua undang-undang ini adalah rujukan dalam melakukan setiap tindakan, apabila tidak menggunakannya maka terjadi penyimpangan.
8. Kesatuan Pimpinan
Dengan mengangkat seorang imam untuk mengurusi persoalan ummat, maka ummat Islam akan mencapai kesatuan, kekuatan, dan kekokohan bangunannya. Dengan faktor tersebut nempak persatuan ummat Islam merupakan kekuatan yang dahsyat. Pimpinan (Qiyadah) merupakan simbol pimpinan, kekuatan kekuatan Islam, dan kesatuan panjinya.

Realita ummat Islam dewasa ini sangat jauh dari hakikat keimanannya kepada Allah Ta’ala. Ini dalam bidang aqidah, sementara dalam bidang ibadah pun demikian pula halnya. Ummat Islam masih jauh dari hakikat Islam yang tercermin dalam shalat, zakat, puasa dan hajinya. Sama halnya dalam bidang syari’ah dan perundang-undangan, ummat ini masih sangat jauh dari hukum-hukum Islam dan ajaran-ajarannya.

Karena itu, Jama’atul Muslimin harus menjadikan tujuannya yang utama mengembalikan ummat Islam – baik secara individu, keluarga, maupun masyarakat – kepada hakikat Islam yang hanif (lurus). Baru sesudah itu kepada kepada semua manusia, menawarkan Islam kepada mereka dan untuk masuk Islam secara kaffah.

Rasulullah SAW menyadari bahwa tugas yang diamanahkan kepadanya – menyampaikan risalah Islam – tidak mungkin dapat dilakukan oleh satu orang saja, tetapi memerlukan suatu jama’ah yang kuat, yang dengan jama’ah itu tempat mengatur strategi serta beramal jama’i.
“Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat.”
(QS. al-Muzzammil [73] : 5)

ketika menafsirkan ayat ini, Sayyid Quthb berkata, “Yakni berat tanggung jawab dan konsekuensinya, bukan berat lafazh atau maknanya, bahkan ia dimudahkan penyebutannya.” Maka dalam langkah pertama kehidupan Rasulullah SAW adalah menegakkan dan mewujudkan jama’ah tersebut.

Rasulullah SAW mengetahui dari perihal kehidupan para Nabi dan Rasul sebelumnya di dalam wahyu yang diturunkan kepadanya. Nabi yang mendapatkan sambutan baik dari kaumnya, lalu mereka membentuk suatu jama’ah yang mengemban tugas dakwahnya, maka kekallah dakwah dan lembaran-lembaran ajarannya.

Rasulullah SAW mengungangkapkan pentingnya Jama’atul Muslimin bagi keberhasilan dakwah, dan beliau menyatakan bahwa dengan jama’ah inilah akan menentukan eksistensi dakwah Islam. Pada peristiwa perang Badar Rasulullah SAW bermunajat kepada Allah Ta’ala yang diriwayatkan oleh Umar Ibn Khaththab: Pada waktu perang Badar.. lalu Nabi SAW menghadap kiblat, kemudian menjulurkan tangannya seraya berdo’a kepada Rabb-nya, “Ya Allah, jika kelompok dari orang-orang islam ini hancur, maka engkau engkau tidak akan disembah di muka bumi.”

Penegakan jama’ah inilah yang harus banyak mendapat perhatian dari para da’i. Karena itu para Da’i harus mengorbankan segala sesuatu untuk mewujudkan jama’ah ini, dengan mengesampingkan yang lain dalam upaya memelihara eksistensi dan kesatuan ummat Islam.
Para pemikir Islam pada masa sekarang ini telah sepakat atas wajibnya penegakan jama’ah ini.

Al-Maududi mengatakan, “Diantara sunnah-sunnah Allah Ta’ala diatas bumi ini ialah, bahwa dakwah (Islam) harus diperjuangkan oleh orang-orang yang senantiasa memeliharanya dan mengatur urusannya.”

Hasan al-Banna mengatakan “Dakwah ini wajib dibawa oleh suatu jama’ah yang mempercayainya dan berjihad di jalan-Nya.”

Sayyid Quthb mengatakan, “Bagaimana proses kebangkitan Islam dimulai? Sesungguhnya ia memerlukan golongan perintis yang menegakkan kewajiban ini.”

Sa’id Hawwa mengatakan, “Satu-satunya penyelesaian ialah harus tegak jama’ah.”

Fathi Yakan mengatakan, “Rasulullah SAW tidak pernah sama sekali mengandalkan kepada kerja individual, tetapi sejak awal beliau menganjurkan penegakan jama’ah.”

Wallahu'alam bish-showab [IA]

http://buletinlabbaik.blogspot.com/2006_09_01_archive.html

Minggu, Februari 28, 2010

Obrol Padang Bulan

Dr. Hidayat Nur Wahid semalam (27/2/10) dalam acara obrolan padang bulan yang diadakan DPD PKS Klaten, memberi tausyiyah tentang masyarakat Madani. Masyarakat madani yang menurut beliau ditafsirkan dalam bahasa jawa antara lain mempunyai ciri:
  • Masyarakat yang tidak Medeni (tidak menakutkan) melainkan masyarakat yang dapat menciptakan rahmatan lil 'alami.
  • Masyarakat yang tidak Madhani (tidak menyamai / ikut-ikutan) melainkan masyarakat yang mampu menciptakan kultur baru sesuai dengan ijtihad yang benar, amar ma'ruf nahi munkar.
  • Masyarakat yang tidak Modhoni (tidak menyalahkan) melainkan masyarakat yang melakukan kritik yang menghadirkan solusi atau alternatif yang baik.
  • Masyarakat yang bukan Maradona atau Madona yang hanya tenar di awal tetapi suram di akhir dengan berbagai permasalah hidup.
Ini beberapa yang dapat saya tangkap dalam tausyiyah beliau selain menyampaikan issu politik terhangat baik itu masalah century, arah koalisi, pemilihan majelis syuro, dan lain-lain. /IA-Klaten

Minggu, Februari 07, 2010

Musim Kering

Hujan deras gini kok di bilang musim kering.... apa maksudnya. Begini saudaraku yang membaca, musim kering yang ku maksud bukanlah berhubungan dengan cuaca, melainkan dengan kondisi keuangan. Dimana saat ini lagi buth-butuhnya yang namanya duit. untuk beli susulah, untuk bayar spp lah, untuk jagonglah, untuk inilah, untuk itulah. pokoknya banyak sekali. maklum pada saat ini lagi belum gajian, kontrak kerja entah kapan tandatangan.

Butuh penghasilan sampingan, kira-kira apa ya.... kalau sesuai dengan pekerjaan harusnya yang berbau tanaman. tanam kangkung, tanam sawi, tanam timun atau yang lain. Kalau yang berhubungan dengan sekolah harusnya melihara ayam, melihara kelinci, melihara kambing atau pun sapi. Semua itu perlu modal dan tidak bisa dinikmati hasilnya dengan segera. Tapi untuk jangka panjang boleh juga tuh... hanya tinggal mematangkan konsep dan segera untuk realisasi. aku pinginnya yang serba instan sih...

Setidaknya ada usaha untuk nambah penghasilan, meskipun hasilnya kecil dan ada kemungkinan tidak berhasil juga, setidaknya itu menjadi ladang pengalaman yang tak ternilai harganya. Sudah saatnya mencoba usaha baru... wiraswasta. /IA-Klaten


Rabu, Desember 02, 2009

Secercah Harapan


Sedikit sinar terang sangatlah bermanfaat ketika berada didalam gua yang begitu gelap dan entah seberapa panjang hingga bisa keluar. Meskipun hanya lilin kecil yang menyala, yang kita bawa dengan penuh kehati-hatian, yang terombang-ambing oleh ayunan langkah kita, itu sangat bermanfaat buat kita. Setidaknya menjadi teman kita untuk menunjukkan jalan menuju pintu gua, tempat kita terbebas dari derita. Derita kegelapan dan derita ketidak pastian, derita ketakutan dan derita kelaparan.

Dalam hidup ini banyak sekali kegelapan yang senantiasa melintas dihadapan kita. Dan kegelapan itu sirna ketika kita menemukan cahaya, meskipun pada mulanya cahaya itu kecil. Meskipun kecil, ketika cahaya kecil itu berkumpul maka hadirlah cahaya besar yang mampu mengusir kegelapan. Satu cahaya, dua cahaya, tiga cahaya, banyak cahaya.

IA/Klaten