This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Cara Mengkonsumsi Madu

Madu Java Honey.

Jumat, April 24, 2009

Bersenang Sejenak

Agenda pekan ini ada lah rihlah keluarga alias bertamasya. Acara ini sudah direncanakan jauh jauh hari, hanya tinggal masalah tehnisnya saja. Menang maupun kalah pokoknya piknik, itulah mainstrem yang dibangun sebelum pemilu terlaksana. Yang lain pada sibuk ngitung angka, ngitung duit yang hilang, minta pertanggung jawaban tim sukses, sibuk menarik uang yang beredar, eeeee... yang ini malah sibuk mbahas piknik. Apa nggak salah .... Saya jawab ini adalah sikap yang benar, sekedar menghilangkan kepanatan nuansa politik sudah selayaknya untuk memanjakan diri dengan bertamasya bersama keluarga.

Penghilang stress, daripada sibuk menghitung siapa yang milih siapa yang berkhianat alangkah lebih baiknya kita menghilangkan berbagai prasangka terhadap saudara-saudara kita. Kita tinggal membina orang-orang yang memang kemarin berkomitmen tergabung dalam barisan ini tanpa minta balasan apapun dalam bentuk duniawi. Sudah saatnya memanjakan diri biar frezzzzz... untuk bisa berfikir jernis mengatur langkah kedepan yang lebih baik, lebih bersih, lebih peduli, dan lebih profesional.

Satu langkah lebih maju dibandingkan yang lain, tidak terkena imbas depresi yang kepanjangan. Memang sudah wajar ketika yang terjadi adalah diluar dugaan, dan yang terjadi itu adalah sesuatu yang tidak menggembirakan. Banyak rival jamaah ini yang kemudian iri dengan sikap kita. Kenapa iri, ya karena kita dipandang oleh sebagian orang adalah orang yang tidak haus akan kekuasaan, tidak haus akan jabatan, tidak haus akan hidangan yang menggiurkan.

Selamat bertamasya kawan-kawanku, kawan seperjuangan dimanapun engkau berada, dimanapun engkau berjuang, dimanapun engkau beraktifitas. IA-Klaten

Sabtu, April 18, 2009

Kemenangan Hakiki


Pemilu sudah berlalu, penghitungan tinggal menunggu hasil, meski perkiraan suara sudah ada ditangan. Bisa jadi hasil tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Bisa jadi sangat jauh dibawah perkiraan angka dan bisa jadi diatas perkiraan angka. Sudah banyak sekali dampak yang terjadi dari hasil perkiraan tersebut yang tidak sesuai dengan apa yang diinginkan, banyak media memberitakan banyak caleg yang lantas stress, bunuh diri, berbuat anarkis, menyegel pasar, menyegel rumah, bahkan menarik kembali barang pemberiannya. Semua itu bisa terjadi lantaran rasa frustasi dan kecewa terhadap seseorang, yang diharapkan memberikan dukungan ternyata malah memberikan dukungannya kepada pihak lain. Wajar saja mereka meluapkan emosinya seperti itu.

Mari kita bedah kenapa fenomena seperti itu bisa terjadi. Yang pertama yang saya sampaikan bahwa masyarakat masih memilih pemimpin itu seseorang yang memberkan imbalan akan pilihannya alias dibeli. Ini fenomena terbesar yang sedang melanda ditengah-tengah masyarakat. Siapa yang memberi dialah yang dipilih. Padahal bisa jadi ada orang yang memberi terlebih dahulu tapi tidak jelas akadnya, memberi ya sekedar memberi tidak ada beban psikologis untuk memberikan suaranya. Meskipun sama-sama memberi tapi beda persepsi.

Tidak ada teman yang sejati dan musuh yang abadi dalam berpolitik. Seiring dengan waktu maka semakin berganti pula arah politiknya. Bahkan politik ini tidak memandang apa dia saudara apa dia bukan, dengan politik seseorang bisa dibutakan mata hatinya.

Banyak fenomena yang terjadi ditengah-tengah masyarakat, tugas seorang aktifis politik atau orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai demikrasi hendaknya senantiasa memberikan contoh dan pembelajaran bagaimana berpolitik yang ideal dengan tidak mengikuti arus politik yang membutakan. sebagai contoh tidak larut dalam ikut membagikan uang untuk kepentingan praktis, agar ia memilihnya.

Kemenangan tidak hanya diukur dari banyak nya prosentase perolehan suara. Melainkan kemenangan juga dilihat dari bagaimana ia berproses dalam menjalankan aktifitas politiknya. Kemenangan sejati adalah dimana ia menjalankan politiknya tanpa terkotori tangan-tangan yang melanggar aturan. Kemenangan sejati adalah dimana ia menjadi pilihan yang murni dari rakyat yang tak minta balas budi. Kemenangan sejati adalah dimana ia menjadi cahaya yang senantiasa menerangi dari gelapnya arus demokrasi. Kemenangan sejati adalah kemenangan yang bisa membawa berkah negeri ini, untuk bangkit kembali. /IA-Klaten

Senin, April 13, 2009

PKSe



jika politik adalah sesuatu yang abu-abu
yang menjadi senjata para penguasa
yang menjadi sindikat pengejar harta dunia
maka aku bukanlah itu
Namun jika politik adalah pembelaan & perjuangan
yang membangunkan keberanian retorika
dan lantang meneriakkan keadilan
maka aku adalah politikus itu

Jika demokrasi adalah belenggu penjajahan
diramaikan oleh tangan-tangan gila jabatan
disetir untuk mengubur kepribadian anak bangsa
maka itu bukan tempatnya
Namun jika demokrasi adalah sebuah peluru pembebas
yang pengusungnya adalah teladan sejati
dan ideologinya menembus keangkuhan parlemen
maka itu adalah kendaraannya..


forward this message

Senin, April 06, 2009

Hari Senang

Selesai sudah kampanye partai politik. Semua atribut sudah mulai diturunkan, meskipun ada beberapa yang belum menurunkan juga. Entah kenapa, mengatur starategi bahwa agar partainya hanya terlihat sendirian dan sangat jelas. Ataukah tidak ada biaya untuk menurunkannya. Yang pasti pada hari ini adalah hari tenang dan hari senang. Tenang dimana tidak ada suara bising knalpot yang sengaja di gembar-gemborkan dan senang dimana semakin banyak beredarnya uang ditengah-tengah masyarakat.

Pilih saya... pilih saya.... pluk... amplop berisi uang 25 rb. Lumayan bisa buat beli rokok, ngasih jajan anak, beli beras, dan lain sebagainya. Banyak yang sedang bagi-bagi. Satu amplop diterima, dua amplop diterima, tiga amplop diterima. Semua amplop diterima. Pilihan cerdas, dengan memanfaatkan peluang pada hari tenang ini akan banyak masyarakat yang merasakan senang, senang, dan senang.

Pilihan ada ditangan kita . Kita tinggal memberi tanda centang sekali saja, kita akan ikut andil menentukan masa depan bangsa. Bila kita tidak memberikan pilihan atau bahkan tidak hadir pada waktu pesta demokrasi maka kita hanya jadi orang pengekor saja. Mengekor pada yang terpilih, baik orang jahat maupun orang baik. Kalau orang baik kita bersyukur... kalau orang jahat kita tidak bisa menyalahkan orang lain kenapa mereka memilih orang jahat. Yang patut dan layak kita salahkan adalah diri kita sendiri karena kita tidak ikut ambil bagian dalam moment untuk menentukan masa depan negeri ini. Sekali lagi jangan salahkan orang lain, jangan salahkan sistem ini, bahkan suasana pesta ini. Satu suara kita sangat berguna.... /IA-Klaten

Minggu, Maret 29, 2009

Utray Never Cry

Misi ini baru dimulai

Teruntuk saudaraku yang entah kapan lagi bisa berjumpa. Teruntuk saudaraku yang entah kapan bisa mempertemukan anak serta cucu kita. Teruntuk saudaraku yang pada saat ini sedang dimabuk cinta.

Memang sudah tiba waktunya, kita sudah beranjak dewasa, terbukti yang sudah kita lalui dengan meninggalkan saudara kita yang lain agar segera meniti penyempurnaan dien ini. Janganlah berbangga dulu karena kita yang lebih dulu. Karena didepan mata kita masih membentang jauh harapan dan masa depan. Ini baru permulaan, ya baru permulaan untuk memujudkan harapan itu. Dan misi itu baru kita mulai.

Selangkah demi selangkah akan kita lalui, semakin waktu meninggalkan kita hendaknya semakin dekat dlam menggapai mimpi kita. Bisa jadi harapan besar untuk negeri ini, dien ini, baru akan dirasakan oleh anak-anak kita bahkan oleh cucu kita.

Barokallah akhi… semoga engkau mampu membangun kerajaan kecil ini dengan penuh kasih sayang sehingga tercipta kerajaan yang sakinah, mawadah, warahmah. Semoga dibebankan kepadamu dan permaisurimu seribu jundi untuk menjadi laskar yang mampu menggetarkan hati musuh dan menentramkan hati umat. Sudah saatnya engkau menjadi raja dalam kerajaanmu, sudah saatnya engkau mengukir lembaran baru dengan pendamping yang menjadi penyejuk hatimu.

Klaten, 29 Maret 2009
Ibnu affan eljawas

Minggu, Maret 22, 2009

Pesta Demokrasi


Pesta demokrasi sebentar lagi. Tapi kok masih terkesan sepi-sepi aja. Apa memang model kampanye sekarang sudah beda dengan yang dulu, rapat umum, kampanye terbuka, pawai sudah tidak relefan lagi untuk diterapkan. Dana sebaiknya diberikan langsung kepada masyarakat pemilih baik dalam bentuk barang maupun uang. Kalau dalam bentuk uang pasti sangat membahayakan bagi partai yang bersangkutan, akan terkena kasus money politik (kalau ketahuan). Lebih amannya diberikan lewat barang, baik bahan makanan maupun bahan bangunan. Karena itulah yang sangat dibutuhkan masyarakat, bukan janji-janji yang belum tentu terealisasi.

Money politik adalah bentuk penghianatan terhadap demokrasi. Meskipun partainya berasas nasionalis maupun agamis, ketika melalukan suap kepada masyarakat maka itu adalah bukti penghianatan. Lantas apa yang perlu dilakukan untuk mensikapi tindakan seperti ini? yang bisa kita lakukan adalah berani katakan TIDAK untuk money politik, karena money politik sebuah langkah awal untuk korupsi.

Saatnya kita berjuang untuk negeri ini dengan mensukseskan pesta demokrasi dengan tidak mengotori hati kita dengan tindakan yang mencemari demokrasi. Saatnya kita merdeka dalam menentukan wakil kita yang akan memperjuangkan kebenaran, memperjuangkan keadilan, memperjuangkan rakyat. salam perjuangan. Bangkitlah negriku...... /IA-Jogja

Kamis, Maret 19, 2009

Musim Kampanye

Kampanye terbuka sudah dimulai. Sudah saatnya kita sedia kapas untuk menutup telinga ketika bepergian keluar bisa jadi berpapasan dengan pawai arak-arakan rombongan kampanye. Biasa, ketika arak-arakan kampanye yang terbesit dalam nurani kita pasti suara bising kendaraan bermotor yang sengaja knalpotnya dibikin keras suaranya. Nah.... kampanye yang beginian ini yang bikin para pengendara lain ataupun yang dilewati arak-arakan akan sangat-sangat terganggu.

Haruslah ada kesadaran dari berbagai pihak agar hal seperti diatas dapat diminimalisirkan. Kenapa saya tulis diminimalisir bukan dihilangkan, karena budaya seperti ini sangat sulit sekali untuk dihilangkan. Seperti halnya korupsi yang melanda negeri ini. Bisanya hanya diminimalkan. Kesadaran tersebut antara lain datang dari pihak pemerintah untuk membuat aturan yang bisa membuat jera para pelaku kampanye. Kesadaran itu datang dari para pejabat partai untuk merani berkata TIDAK BOLEH ketika ada masa yang mencoba berbuat dan tidak usah takut akan ketidak ikut sertaannya dalam mendukung partai. Kesadaran itu datang dari para peserta pawai itu sendiri untuk tidak membuat keresahan pada yang lain.

Sudah saatnya berubah menjadi pribadi yang teladan, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Jangan menjadi Teladan yang tidak baik, melainkan menjadi teladan yang dapat menghantarkan diri kita menghirup udara segar surga. /IA-KlaX

Rabu, Februari 18, 2009

Hakikat Air


Water alias air alias banyu. Semua butuh yg namanya air, 80% tubuh kita pun mengandung air. Air memang salah satu dari ribuan ciptaan Allah ta'ala yg dianugrahkan untuk mahluk ciptaanNya.

Setetes air ditengah gurun pasir menjadi nikmat yg luar biasa, serasa disurga. Limpahan air dilautan menjadikan kita sangat dahaga ketika meminumnya. Dari kedua gambaran tadi dapat kita ambil pelajaran. Pelajaran apa itu? Pelajaran akan ungkapan syukur kita kepada sang pemilik air, Allah ta'ala. Tetes demi tetes maka akan berkumpul menjadi samudra. Dan akan menjadi kekuatan yang sangat dahsyat, yang mana ia mampu menghancurkan apapun yang dihadapannya. Melibas dan menggilas. Sangat luar biasa dahsyatnya.

Inilah Hakikatnya air, meski terkesan sedikit dan tak membahayakan, ketika yang sedikit tadi bertemu maka akan menjadi kekuatan yang luar biasa, kekuatan yang diluar jangjauan kita, kekuatan yang yang tahu hanyalah yang Maha Tahu. /IA-KlaX

Kamis, Januari 22, 2009

Beri kami senjata


Sungguh Sangat biadab israel... membunuh begitu banyak nyawa manusia bagaikan membunuh binatang. Apa daya mereka tak punya senjata. Andaikan mereka punya senjata pastilah mereka bisa melawan meskipun masih anak-anak. Senjata mereka hanyalah batu - batu yang berasal dari reruntuhan bangunan. Hanya dengan batu mereka melawan. Meskipun hanya dengan batu mereka tak takut akan kematian. Justru mereka bangga telah membawa nama harum dirinya serta keluarga dengan gelar syuhada.

Sekarang banyak berbondong bondong ingin menyalurkan bantuan untuk rekonstruksi bangunan, bangunan yang entah bertahan berapa lama. Yang mereka butuhkan adalah tanah tempat mereka dilahirkan, yang sudah gantinama dengan nama-nama yang asing. Dan tanah itu masih tetap disana, tapi apa daya sekarang tak bisa berpijak diatasnya. Ketika ingin sekedar mencium harum wangi tanah kelahiranya maka yang terjadi adalah todongan angkuh dari tank serta rudal-rudal penjajah.

Senjata... beri mereka senjata niscaya akan mengalahkan israel. Senjata... bantu dengan senjata itu akan lebih berguna.

Selasa, Desember 16, 2008

Ketika Uang Mulai bicara


Sungguh ironis sekali yang terjadi dimasyarakat. Dengan iming iming uang maka dengan rela alan mendukung dalam pemilu yang akan datang. Tidak besar memang, cuma Rp. 15.000. Apa alasan mereka ? Ketika saya tanya dibeberapa tempat hampir semua jawaban menjawab dengan praktis "Kita nggak tau siapa-siapa mas... mending pilih yang ngasih aja lebih untung." Nah inilah yang terjadi dimasyarakat. Siapa yang memberi bukti riil terhadap masyarakat (memberi uang) maka itulah pilihannya.

Ada kesalahan dalam proses demokrasi ini. Ada beberapa bahkan banyak yang menjadikan lahan ini sebagai lahan bisnis. Dengan mengeluarkan sejumlah Rp.200.000.000 maka akan kembali modal sekitar 2,5 tahun. bahkan lebih cepat. Bisnis caleg ini yang menjadi penting saat ini. Gimana mau maju negeri ini ketika para anggota legislatif sudah tertutupi oleh buaian duniawi yang begitu menggiurkan. Bagaimana akan membangun negeri ini dimana Dia sedang sibuk mengembalikan modal kampanye yang begitu besar.

Solusi praktis bagi mereka untuk mengembalikan modal yang dibagi-bagikan ke masyarakat (Sebagai tali asih per orang 15 rb, tebasan per Rt 1 Juta) yaitu dengan membuat kebijakan yang menguntungkan bagi mereka serta korupsi. Gimana lagi kalau nggak gitu maka modal nggak akan balik.

Perlu ada penyikapan yang bijak dari masyarakat sendiri. Caleg yang menawari iming-iming uang tidak layak untuk dipilih. Suap tetaplah suap meskipun ia berganti nama dengan dana sukarela, dana tali asih. Khomer tetaplah khomer, haram diminum. Meskipun diganti nama dengan alkohol 0% bahkan diganti dengan nama sirup sekalipun.

Merdeka dalam memilih, merdeka dalam berdemokrasi. Karena itu lebih mulia...